About The Little Miss Sunshine


Kencan Buta 25 Desember 2008
December 26, 2008, 5:35 am
Filed under: One Fine Day...

Aku heran, kenapa sih ada yang kayak kebakaran jenggot kalau disuruh sehariiiaannn aja nggak keluar rumah. Bisa mati bosan, katanya. Dasar edan, metropolitan, samseng, kesiiaaannn deh lo!

Padahal, kalau dinikmati, kencan dengan diri sendiri full-day di rumah bisa menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan.

(1) Nggak usah bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan diri untuk aktivitas ‘apa saja’.

(2) Nggak usah juga dandan rapi atau berlaku jaim atau pasang senyum sepanjang hari.

(3) Nggak usah repot mikirin priority scale of the day.

(4) Nggak usah pusing bagaimana membuat orang lain senang.

(5) Nggak usah habisin energi untuk sumpah-serapah saat mengemudi di jalanan Medan.

‘Yang penting hepi” begitu motonya.

Ya, demikianlah kencan butaku dengan Yenny Heriana, 25 Desember 2008.

Tidur lelap setelah balapan Toy Story 1 & 2 di malam sebelumnya, aku pun bangun dengan rela di Kamis pagi yang berbahagia. Harapannya sih bisa makan Citrus Smoked Turkey dan merasakan suasana Natal ibarat film-film barat gitu. Tapi yah, seperti yang sudah bisa anda tebak, aku hanya bisa memenuhi hasratku tadi dengan menongkrongi TV kabel. Hanya menelan ludah ketika ‘Nigellas Christmas Bites’ naik tayang di channel favoritku, Discovery Travel & Living. Lalu gigit jari sambil menangisi ‘Taste of America Holiday’. Dan shock ketika mengetahui bahwa di Amrik sono beneran ada call center yang KHUSUS melayani tanya-jawab seputar masak-memasak beragam menu kalkun di hari Natal. Gila!

Setelah sempat bersua sejenak dengan Bullet, si anjing balita yang kini tidak balita lagi, makan siang, dan menjalani rutinitas ‘jahil-jahilan’ satu episode dengan adikku, aku pun kembali ke layar tivi.

Christmas DVD Marathon Day, so I called it. And here were my picks of the day.

- The Terminal - (2004)

Tagline: Life is waiting

Perpaduan Steven Spielberg dan Tom Hanks yang cukup apik, alasan apalagi yang anda perlukan untuk melewatkan film yang satu ini? Seperti belum puas mendengar voice-over Hanks sebagai Sheriff Woody semalam, sosok Forrest Gump yang polos, Chuck Noland yang desperate, Robert Langdon yang bijak, atau Charlie Wilson yang charming… Aku kembali terpana dengan acting Tom Hanks yang selalu mempesona dan entah-kenapa-selalu-tampak-seperti-lelaki-baik-baik-di-mataku. Cukup menarik intrik yang diinspirasi dari kisah nyata seorang pengungsi Iran yang terperangkap bertahun-tahun di Charles de Gaulle Airport di Paris karena kehilangan paspornya. Btw, nama negara asal Viktor Navorski (yang ternyata fiksi) cukup garing di telinga (seperti nama spesies kecoa terbaru), Krakozhia. What a country name!

- Man of The Year - (2006)

Tagline: Could this man be our next president?

Ini lagi salah satu aktor yang tidak pernah kulewatkan sejak kelihaiannya memerankan Mrs. Doubtfire, Robin Williams. Ayah dari duabelas anak dalam Cheaper by the Dozens ini memerankan komedian politik yang punya nyali bersaing dengan partai Demokrat dan Sosialis untuk ikutan pemilu Amrik. Alamak! Jelas saja kampanye kandidat independen ini lain daripada yang lain. Dengan berdiri di atas pentas layaknya konser, Tom Dobbs (Robin Williams) menghantarkan pidatonya dengan jokes layaknya stand-up comedian. Dialog dalam film cukup pintar dan bermakna. Well, walaupun tidak sampai membuatku terguling-guling dan terbahak-bahak, tapi cukup membuat hariku bahagia. Sampai detik ini, saya merasa, a stand-up comedian is really really a talent. My kudos.

- Prime - (2005)

Tagline: A therapeutic new comedy

Aku bukan seorang penggemar Uma Thurman. Untung saja ada Meryl Streep yang membuatku ingin mengintip film drama komedi ini. Dengan karakterisasi yang sangat realistis didukung akting yang luar biasa natural. Semakin hangat dengan mood film yang very earth-tone, komplitlah ia menjadi drama artistik. Belum sanggup mematahkan kekagumanku pada ‘Little Children’nya Todd Field sih, tapi konflik cerita yang mengalir lancar cukup impressive. Bayangkan seorang wanita berumur 37 tahun, baru saja bercerai dua minggu, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang pria muda berusia 23 tahun, yang ternyata adalah anak dari sang therapist yang mengkonsultasi si wanita selama ini, dan mereka adalah keluarga Jewish yang super duper kolot dan banyak taboo-nya, dan sang wanita menceritakan  dengan tak berdosanya kepada sang therapist bagaimana ia ‘main’ dengan sang priamuda di setiap sudut rumahnya, dan sampailah ketika sang therapist tahu bahwa pria itu adalah anaknya…. Ooohhh….Fiuuhh… (*stress)




No Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>