Filed under: PASSION Talk
One month after the post. I finally put myself in front of my brother’s PC and post this rusty article. Originally published in Tabloid Aplaus, 2nd February 2008, minus the additional part on Yasmin’s reply. Mind my amateurish writing.
* * *
Bohong tapi seperti nyata. Kadang apa yang kita lihat atau kita dengar begitu sinematis dan terbawa mimpi. Sebegitu hidup karakternya, sebegitu riil ceritanya. Kemampuan mendirikan bulu roma ini mungkin hanya milik Yasmin Ahmad, sang pencerita.
Mega mendung di angkasa
Hembusan bayu dingin terasa
Gerimis berderai di merata
Bagai Mutiara.
Rahmat dibawa bersama
Limpahannya meresap di jiwa
Adakala bahgia terasa
Meskipun duka nestapa.
Orked kecil dan Mak Inom menari-nari dalam hujan dengan girang. Berbahagia seakan itu air pertama yang tumpah dari surga selama dahaga musim kemarau. Kak Som, sang tetangga, menggeleng-gelenggkan kepala dengan satu ember jemuran di pelukan.
“Apa lah dia orang tu? Tak tahu malu langsung.”
Sementara suaminya hanya sibuk berkencan dengan instri muda bernama Vespa.
Keroncong Hujan–yang diciptakan ayahanda Yasmin sendiri– ini menggiring imajiku pada film klasik P.Ramlee. Kontan rasa kerinduan akan suasana kampong dan kekeluargaan terasa begitu lekat. salah satu soundtrack paling sejiwa yang pernah kudengar. Coba saja streaming di youtube, anda mungkin tertarik hanya dengan sepenggal trailer dua menitan saja.
Nah, ketika kebanyakan artis melambangkan hujan sebagai simbol kemurungan dan pertanda buruk, Yasmin Ahmad lantang menyeduhnya dengan seni yang berbeda. Di dalam film Mukhsin, ia memproklamasikan hujan sebagai rahmat Tuhan, bulir-bulir yang membersihkan raga dan kemudian menyimpan kenangan hidup bersamanya di dalam perut bumi. Tidak hanya karakter Orked dan Mukhsin yang menyita ruang nalar, tokoh-tokoh lainnya juga dilakonkan dengan sangat natural dan familiar.
Banyak lagi elemen-elemen lain seperti pemandangan sawah–yang serasa ingin membuatku pensiun muda dan pindah ke desa–, Bujang ’sang kucing peliharaan’, layang-layang, permainan galah panjang, dan panjat-memanjat pohon. Yasmin menorehkan setiap detail dalam filmnya begitu hidup; penataan plot dan setting, karakterisasi, dialog yang akrab di telinga–semua begitu close up di hati penonton.
“Makcik Senah… macam mana seseorang tu tau yang dia dah jatuh cinta?”
Sepenggal script ini seakan meluluhkan ego dan membawa memori saya kembali ke masa kecil. Ketika itu, kita percaya cinta itu suci dan kekal. Mungkin itu juga yang ditangisi Yasmin Ahmad dan aktris Mislina Mustaffa ketika meneteskan air mata saat shooting adegan ini. Seakan baru saja teringat kalau cinta itu sebetulnya sangat sederhana dan apa adanya
Apakah itu juga yang ada di dalam pikiran juri Berlin Film Festival ketika Mukhsin memenangkan penghargaan Deutsches Kinderhilfswerk Grand Prix dan Glass Bear-Special Mention pada taun 2007? Atau mereka terkesan bagaimana sebuah kisah cinta pertama yang terinspirasi dari puisi Wislawa Symborska ini bisa sempurna tersampaikan walau hanya dengan visualisasi yang sangat basic?
Sedikit berteori, teknik penyutradaraan Yasmin sangat mendasar dan statis. Mungkin terpengaruh oleh Yasujiro Ozu yang mewarisi ’sentuhan’ sutradara film komedi Jerman-Amerika, Ernst Lubitsch. Hampir semua adegan diambil dari jauh dengan kamera diam di tempat tanpa mengikuti pergerakan para pelakon. Uh! Dengan static shots begini tentu saja ekspresi pemain adalah modal utama untuk membangkitkan emosi penonton. Dan lagi-lagi Yasmin menabung poin di sini karena ia sendirilah yang turun tangan memilih talent yang tepat untuk setiap karakter ciptaannya.
Oh, apa lagi yang diperlukan untuk membuatku jatuh cinta pada seorang Yasmin Ahmad? Di balik kesederhanaannya, terbaca kejujuran. Konon, ketika saya masih seorang mahasiswi advertising di Malaysia, seorang kawan memperlihatkan iklan tivi Petronas berjudul Letchumi & Rokiah. Sebuah kisah persahabatan inter-rasial untuk memperingati kemerdekaan Malaysia. Perpaduan musik dan scene bisu dengan narasi ini begitu menyentuh. Ketika sampai pada lima detik terakhir, jantungku terasa nyeri dan mataku basah. When you remember the day, don’t forget the feeling. Begitu suara contralto Yasmin sendiri menutup sebagai narator.
Aku bergidik. Merinding sekaligus kagum melihat buah karyanya.
Bagaikan dijampi, audio visual dalam balutan komposisi 25 frames/second ini sanggup menghantam cerebral cortex di otak besarku dengan pesan-pesan moral yang menyentuh. Mungkin karena kepiawaian lulusan psikologi Newcastle University ini memahami emosi manusia, mungkin juga karena tema yang diusung sangat sensitif.
Sudah menjadi rahasia umum kalau Yasmin memang terobsesi dengan cinta dan budaya!
Mungkin bagi anda yang belum mengenal Kak Min, sekarang biarlah saya bercerita. Ia selalu memanggil dirinya sendiri, the storyteller, sang pencerita dalam Bahasa Indonesia. Penulis dan sutradara film Rabun, Sepet, Gubra, dan Mukhsin ini begitu pintar membahasakan hidup dalam script dan visual hingga sanggup membuatku tertawa dan menangis bersamaan. Kesemuanya ditulis di Bali dalam waktu tidak lebih dari seminggu, kesemuanya mengisahkan tentang pembauran antarsuku di negeri jiran Malaysia.
Tidak usah berbicara tentang berapa penghargaan perfilman internasional yang sudah diraih executive creative director Leo Burnett Malaysia ini, cemooh dan celaan pun sudah ia telan. Yasmin dianggap sebagai koruptor budaya Melayu di negerinya sendiri hanya karena ia terlalu jujur pada diri dan karyanya. Pelacuran, perselingkuhan, dan cinta seorang wanita Muslim yang soleha dengan seorang lelaki Cina, menjadikan Gubra karya kontroversial yang dicintai sekaligus dimaki. Apalagi yang menanti Muallaf, film terbarunya yang lebih ‘keringat dingin’ dengan tema agama?
You have to get personal with your art. Demikian shout out dalam personal blognya.
Yasmin tidak hanya menyutradarai dan menulis sendiri semua skenario filmnya. Jiwanya HIDUP dalam karakter-karakter ciptaannya, kisahnya nyata dalam benak penontonnya. Memang, karyanya belum sekelas Alfred Hitchcock, atau Orson Welles, atau sutradara penakluk Cannes lainnya. Namun predikatnya bertutur ‘stroytelling’ cerita sangat luar biasa.
Tidak heran kalau struktur skenario tiga babak yang ditulisnya tidak hanya sebagai pelengkap fungsi sebuah film saja, namun adalah karya seni itu sendiri.
YeHa - 29.02.08
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
