Filed under: One Fine Day...
September berlalu begitu saja tanpa berbelas kasihan pada tumpukan kerjaan yang masih berserak dan menumpuk di mejaku. Luar biasa berantakan, luar biasa tumpang tindih. Sampai bingung aku mau mengerjakan yang mana dulu. Lagian, Fiesta tinggal menghitung hari. Maka tak heran, bulan lalu kulalui dengan insomnia, asam lambung, dan ramuan tradisional Cina untuk menambah stamina tubuh.
Mana pula, tiga dari sekian pekerja terbaik Aplaus berturut-turut pamit untuk mengejar cita dan cinta di luar sana. Saya lupa kapan tepatnya, yang jelas dalam dua bulan terakhir ini, kantorku banjir air mata, saling berpeluk dan mengucapkan salam perpisahan.
Pertama, Willim Qiu, asistenku yang smart dan bertampang sangat menjual. He’s so young and bright, maka tidak heran tawaran dan kesempatan baru adalah tantangan menarik baginya. Sayang, saya belum sempat eksploitasi dia sampe ke intisarinya. haha… Well, I believe he made up his choice with a very fine reasoning. Good luck to u, my boy. Like what Dave said, “Thanks, and see you at the top.”
Lalu, menyusul editor super teliti, Erni Susanti, yang melalangbuana ke Pulau jawa untuk mewujudkan komitmen dan impiannya sejak dulu, mengabdi kepada keyakina yang dianutnya. Sungguh sebuah keputusan yang sangat berani, dan indah.
Si imut Chandrawaty yang selalu menyemangatiku setiap hari dengan ‘sound effect‘ dan suara super sopran melengking, akhirnya juga menemukan tumpuan hati. Media and advertising. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan studi ke Singapore.
Too bad, intake-nya terlalu dini hingga ia harus dengan berat hati mengatakan maaf, tidak bisa berkontribusi hingga selesai Fiesta. Waktu itu, sangat sulit bagiku untuk menerima kenyataan, bahwa seorang Chandra yang sangat gigih dan mencintai pekerjaannya dengan sepenuh hati, bisa tega melangkah pergi.
But, as I know her so well, apapun keputusan yang diambil, ia tidak akan melangkah mundur atau menyesali. Untunglah waktu sebulan berhasil mengatasi rasa shock dan keberatanku mengantarnya pergi. Hingga hari terakhir itu, tidak ada air mata sama sekali, hanya rasa bangga dan bahagia untuk seorang sahabat yang pergi mewujudkan cita. Harapan dan asa pun kutitipkan bersamanya.
Memang tidak gampang untuk mengikuti kata hati, apalagi mengambil keputusan berdasarkan insting dan kata hati. Big applause for them. dengan lapang dada dan senyum tulus, kuantarkan doa. “Biarkan kita berpisah untuk berjumpa kembali.”
All the best.
YeHa* early october 2007.
4 Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
numpang blog deh.. malas bikin lagi soalnya…
tidak ada lagi teman usil bareng, tidak ada lagi seorang lebih keras dari batu dan, tidak ada lagi orang yg gila bahasa baku, tidak ada lagi teman berbagi cerita pahit…
anyhow, selamat jalan dan semoga sukses diluar sana kepada teman2 yang pernah menjadi seperjuanganku.. cheers..
Del 10.16.07 @ 2:35 amThanks a lot, tersentuh de.. ^^
Williem 12.13.07 @ 9:55 amAplausse for Yenny(Superwoman)!
oh ya, almost forgot. Thanks del
Williem 12.13.07 @ 9:57 amThat’s what i’m proud of ya.
Juz call me 03.19.08 @ 3:03 am