About The Little Miss Sunshine


Dirgahayu MerahPutih
August 19, 2007, 6:27 am
Filed under: One Fine Day...

Merahputih
Acara ‘tujuh-belasan’
tahun ini berlalu seperti suasana hari merah lainnya.
Hampir tidak ada
hiruk pikuk dan pekikan semangat yang terdengar. Pukulan di pundak atau jabat tangan sambil salam ‘merdeka’ juga hanya satu-dua. Aku sempat menebarkan SMS berbunyi dirgahayu ke–mungkin 20 puluhan nomor, namun seperti yang kuduga hanya dua berbalas. Apakah semangat nasionalisme, patriotisme, veteranisme, atau apapun itu sebutannya, sudah mulai luntur dari semangat generasi muda sekarang? Atau ia terpendam begitu dalam hingga terlalu ‘ultra-hertz’ untuk disuarakan?


Hmm… Bisa jadi alasan gelombang dan signal yang kurang memadai untuk merambatkan suara hati yang jadi tumbalnya.


Pagi ini kusempatkan diri menyaksikan siaran langsung upacara detik-detik proklamasi di Istana Merdeka, membuatku rindu saat-saat upacara bendera setiap Senin saat sekolahan dulu. Agenda rutin yang membosankan, namun juga mengesankan. Dulu aku pernah berpura-pura sakit perut kedatangan ‘tamu’ agar diberi izin untuk tinggal di dalam kelas saja. Dulu juga aku berusaha berdiri di baris belakang agar bisa bergosip sambil mengunyah permen karet. Well, untuk postur tubuh mini-ku emang agak susah untuk berbaris di belakang, selalu aja ada yang senewen “…yang merasa
pendek baris di depan.”


Namun ada saat-saat tertentu aku merasa bangga, ketika menjadi salah satu petugas upacara di depan sana misalnya. Apalagi ketika dua tahun terakhir di SMU aku ‘dikurbankan’ jadi ketua kelas oleh anak-anak, yah… pemimpin pasukan jadi langganan tiap Senin.


Begitu juga semangat senasib-seperjuangan membawa anak-anak Ibu Pertiwi di negeri seberang merasa seperti ’saudara’.
Walau hanya disumpah dengan status international student tanpa saksi mata. Di negara manapun juga, aku yakin, asal ada anak indo yang terdampar, pasti istilah legendaris ‘senasib-sepenanggungan’ diploklamirkan.

Diskriminasi terkikis, berganti nasionalis. Ironisnya, beda dengan anak-anak
negeri yang masih jago di kandang sendiri. Tahunya hanya demo dan tawuran untuk memperjuangkan alasan yang kurang jelas. Tapi kalau protesnya untuk kepentingan bersama, seperti cerita klasik pemadaman lampu oleh PLN, nah… itu boleh juga disebut salah satu bentuk nasionalisme kali.

Yang penting, di usia kemerdekaan ke-62 ini, kita harus benar-benar mengerti arti kebebasan dan kemerdekaan, bertindak dan berucap dengan bijaksana. Jangan jajah diri kita sendiri dengan keterbelakangan, gagap teknologi, master of problem-making, rules-breaking, dan persaingan tidak sehat. Jangan juga rusak lingkungan alam dan properti negara dengan tindak vandal. Buang sampah juga pada tempatnya lah, Lai! Dan tidak lupa untuk selalu mengingatkan pada diri kita sendiri, “However, I’m proud to be an Indonesian.”


Dirgahayu
Indonesiaku, jayalah engkau selalu.

*YeHa - 17.08.07
catatan di malam proklamasi 2007




5 Comments so far
Leave a comment

Salam merdeka Nek! kok aku ga terima sms-nya? hehe..nyway, cuma mo bilang, wat an interesting point of view.U rock girl!

   Ade 08.20.07 @ 10:33 pm

Salam merdeka Nek! kok aku ga terima sms-nya? hehe..nyway, cuma mo bilang, wat an interesting point of view.U rock girl!

   Ade 08.20.07 @ 10:36 pm

masalahnya orang sekarang udah tidak tau lagi apa arti kemerdekaan itu sendiri..
apa itu merdeka? apakah cuman terbebas dari belenggu pemerintahan kolonial belanda dan jepang selama lebih dari 3,5 abad atau cuman sekedar dapat melewati sehari-hari tanpa kekurangan apa pun …

seperti yang diketahui, negara ini makin lama makin hancur digerogoti oknum-oknum yang sangat bertanggung jawab atas semua kekacauan yang terjadi di dalam negeri ini..

pertanyaan simplenya: apakah pemerintahan yang sekarang ini yang nota benenya anak cucu dari orang-orang yang memperjuangkan kemerdekaan itu menjaga kemerdekaan?

dengan kenyataan pahitnya seperti masyarakat kota medan yang tidak mendapatkan pasokan listrik dan air yang cukup yang padahal itu menjadi hak milik dari setiap rakyat (yang membayar tentunya, kita tidak sedang membicarakan orang yang mencuri listrik ditepi jalan untuk dijadikan warung)..

keadaan keadaan begini lah yang kadang-kadang terlintas dipikiran apanya yang merdeka kalo keadaan tidak bertambah baik malah makin buruk? dengan demikian orang-orang pun udah malas untuk memikirkan lagi arti kemerdekaan itu beserta dengan cerita cerita sejarah yang terkandung didalamnya..

sekedar informasi juga kalo indonesia tidak pernah benar-benar merdeka.. ini masih ditandai dengan adanya penjajahan ekonomi, teknologi, dan budaya oleh pihak luar.. ini terlihat dengan adanya pembelian saham perusahaan negara oleh asing, barang keperluan sehari hari dari luar, dan lebih suka memakai kebudayaan asing ketimbang kebudayaan sendiri sebagai jati diri.. dan pemerintah sendiri seakan akan menutup mata dengan fenomena ini.. so who’s to blame anyway?

walaupun demikian, gw yakin kalau emank ada pihak-pihak yang ingin mempertahakan identitas indonesia itu sendiri dan gw yakin orang tersebut jumlahya tidak sedikit.. semoga mereka dapat berbuat banyak agar indonesia dapat melangkah ke indonesia yang lebih cerah, bukan indonesia yang sekarang ini.. pertanyaanya: kapan bisa diwujudkan indoutopia(nesia) ini?

my 2 cents

   Del 08.21.07 @ 9:20 pm

astaga, Del.. di saat-saat stress dan penat di tengah lembur yang tiada akhir ini, kau jajah lagi otakku dengan opini beratmu ini…. Tuhan, oh Tuhan…

   Yenny 08.22.07 @ 6:16 am

there is a joke between me and some friends of mine, when we were very gullible kids. We kid that Indonesian flag is perhaps the flag easiest to draw and color… i believe patriotism should be the same, easy and downright simple, stop those unnecessary bashing among ourself and start loving one another. We leave here, we love here.

   Mcass 09.05.07 @ 4:21 am



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>