About The Little Miss Sunshine


CERMIN WAJAH
March 23, 2007, 4:59 am
Filed under: Books

"Andaikan dua anggota pemadam kebakaran pergi ke hutan untuk memadamkan kebakaran kecil. Setelah selesai, mereka pergi ke sebuah anak sungai. Wajah yang seorang hitam penuh jelaga, sementara yang lain bersih sama sekali. Pertanyaannya: siapa di antara mereka yang akan membasuh muka?"

"itu pertanyaan konyol. Yang wajahnya kotor tentu saja."

"Tidak. Yang wajahnya kotor melihat wajah temannya bersih, dan dia mengira wajahnya sendiri juga bersih. Sebaliknya, yang wajahnya bersih melihat wajah temannya kotor, dan dia akan berpikir: wajahku pasti kotor juga, lebih baik aku cuci muka."

Well, selama ini kita selalu melihat diri kita sendiri dari bayangan orang-orang yang kita cintai. Apalbila mereka selalu berseri dan bahagia, mungkin memang itulah yang telah kita ciptakan untuk mereka. Namun, bila mereka kelihatan lesu dan tidak bersemangat, bisa jadi itu bukan mereka —-tapi diri kitalah yang tidak menebarkan cukup cinta. Point taken!

Jadi selalulah tersenyum tulus dan menatap dengan penuh cinta, lupakan sejenak susah di hati dan berbahagialah. Karena mereka yang mencintai kita, juga akan menerima energi positif ++ tersebut dan turut berbahagia. Pastikan cermin di wajah kita tetap bersinar cerah.

YeHa* - March 07



Medan Perang = Altar Cinta
March 20, 2007, 8:24 am
Filed under: Books

"Di daerah peperangan, hidupku lebih berarti. Aku tidak mandi berhari-hari, makan seadanya, tidur tiga jam sehari dan terbangun oleh suara tembakan. Aku tahu setiap saat seseorang bisa saja melemparkan granat ke arahku, dan itu membuatku benar-benar merasa hidup, setiap menit, setiap detik. Tidak ada ruang untuk kesedihan, keraguan, kekecewaan; yang ada hanya kecintaan yang besar pada kehidupan.

Di sana, aku bis amelihat bahwa-seaneh apapun kedengarannya-orang merasa bahagia ketika mereka dalam perang. Kekuatan pengorbanan mereka mereka demi suatu tujuan mulia memberi arti bagi hidup mereka. Mereka mampu memberikan cinta yang tak terbatas, karena mereka tidak bisa kehilangan apapun lagi,… tidak ada lagi yang tersisa. Prajurit yang menderita luka fatal tidak pernah minta pada tim medis, ‘tolong selamatkan aku!’ Kata-kata terakhir mereka biasanya, ‘katakan pada istri dan anak-anakku, aku sayang pada mereka." Pada saat-saat terakhir, mereka bicara tentang cinta!"

* * *

Satu poin mengejutkan dari buku Coelho ketika Esther, tokoh wanita utama yang menjadi sang Zahir, menyatakan bahwa: medan perang adalah altar cinta.

Membuatku berpikir kembali tentang kehidupan, kematian, dan cinta.

*yeha- a late note on Feb ‘07



Senggama Sastra 1: The Zahir
March 1, 2007, 3:27 am
Filed under: Books

"Cinta adalah kekuatan yang tak ‘kan pernah bisa ditundukkan. Kalau kita berusaha mengendalikannya, cinta akan menghancurkan kita. Kalau kita berusaha mengurungnya, cinta akan memperbudak kita. Kalau kita mencoba memahaminya, cinta akan meninggalkan kita dalam kebingungan."

 

Setelah selang lama tak bersenggama dengan buku dan dunia sastra, akhirnya ku berhasil mencuri waktu untuk menikmati surga duniawi itu sejenak. Tiga puluh menit pertama benar-benar payah, bukan foreplay yang menyenangkan. Maklum, karya Paulo Coelho bukan bacaan jinak untuk pemanasan, terlalu berat untuk sebuah appetizer.

Namun selang satu jam lebih aku bercinta dengannya, THE ZAHIR, benar-benar membawaku berpetualang bagai ke dimensi lain, sungguh luar biasa. Begitu banyak poin yang ekstrim namun benar apa adanya. Mungkin aku akan mengepos beberapa pesan yang disuratkannya di blog berikut, doakan aku bisa mengendalikan waktu.

Satu yang jelas, penulis religi dan filosopi ini menyuapiku dengan sejuta minda yang bahkan tidak pernah terlintas di benakku sebelumnya. Sama seperti di The Alchemist, beliau selalu menyisipkan penyegar jiwa untuk pembaca-pembaca berdosa seperti aku.

Ada dua lagi karyanya yang sedang menunggu, The Warrior of Light and The Pilgrimage (Thanks for the books, Janet)  yang sekarang sedang mampir di meja seorang kolega. Selamat mengantri untukku.

PS: Selama Jalan, Sidney Sheldon! When the sky was falling, and the stars were shining down, you told me your dream. And Yes! You’ve made it real. Nothing last forever, but your works do.You’ll see the windmills of Gods at the other side of midnight. Good bye.