Kencan Buta 25 Desember 2008
Aku heran, kenapa sih ada yang kayak kebakaran jenggot kalau disuruh sehariiiaannn aja nggak keluar rumah. Bisa mati bosan, katanya. Dasar edan, metropolitan, samseng, kesiiaaannn deh lo!
Padahal, kalau dinikmati, kencan dengan diri sendiri full-day di rumah bisa menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan.
(1) Nggak usah bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan diri untuk aktivitas ‘apa saja’.
(2) Nggak usah juga dandan rapi atau berlaku jaim atau pasang senyum sepanjang hari.
(3) Nggak usah repot mikirin priority scale of the day.
(4) Nggak usah pusing bagaimana membuat orang lain senang.
(5) Nggak usah habisin energi untuk sumpah-serapah saat mengemudi di jalanan Medan.
‘Yang penting hepi” begitu motonya.
Ya, demikianlah kencan butaku dengan Yenny Heriana, 25 Desember 2008.
Tidur lelap setelah balapan Toy Story 1 & 2 di malam sebelumnya, aku pun bangun dengan rela di Kamis pagi yang berbahagia. Harapannya sih bisa makan Citrus Smoked Turkey dan merasakan suasana Natal ibarat film-film barat gitu. Tapi yah, seperti yang sudah bisa anda tebak, aku hanya bisa memenuhi hasratku tadi dengan menongkrongi TV kabel. Hanya menelan ludah ketika ‘Nigellas Christmas Bites’ naik tayang di channel favoritku, Discovery Travel & Living. Lalu gigit jari sambil menangisi ‘Taste of America Holiday’. Dan shock ketika mengetahui bahwa di Amrik sono beneran ada call center yang KHUSUS melayani tanya-jawab seputar masak-memasak beragam menu kalkun di hari Natal. Gila!
Setelah sempat bersua sejenak dengan Bullet, si anjing balita yang kini tidak balita lagi, makan siang, dan menjalani rutinitas ‘jahil-jahilan’ satu episode dengan adikku, aku pun kembali ke layar tivi.
Christmas DVD Marathon Day, so I called it. And here were my picks of the day.
- The Terminal - (2004)
Tagline: Life is waiting
Perpaduan Steven Spielberg dan Tom Hanks yang cukup apik, alasan apalagi yang anda perlukan untuk melewatkan film yang satu ini? Seperti belum puas mendengar voice-over Hanks sebagai Sheriff Woody semalam, sosok Forrest Gump yang polos, Chuck Noland yang desperate, Robert Langdon yang bijak, atau Charlie Wilson yang charming… Aku kembali terpana dengan acting Tom Hanks yang selalu mempesona dan entah-kenapa-selalu-tampak-seperti-lelaki-baik-baik-di-mataku. Cukup menarik intrik yang diinspirasi dari kisah nyata seorang pengungsi Iran yang terperangkap bertahun-tahun di Charles de Gaulle Airport di Paris karena kehilangan paspornya. Btw, nama negara asal Viktor Navorski (yang ternyata fiksi) cukup garing di telinga (seperti nama spesies kecoa terbaru), Krakozhia. What a country name!
- Man of The Year - (2006)
Tagline: Could this man be our next president?
Ini lagi salah satu aktor yang tidak pernah kulewatkan sejak kelihaiannya memerankan Mrs. Doubtfire, Robin Williams. Ayah dari duabelas anak dalam Cheaper by the Dozens ini memerankan komedian politik yang punya nyali bersaing dengan partai Demokrat dan Sosialis untuk ikutan pemilu Amrik. Alamak! Jelas saja kampanye kandidat independen ini lain daripada yang lain. Dengan berdiri di atas pentas layaknya konser, Tom Dobbs (Robin Williams) menghantarkan pidatonya dengan jokes layaknya stand-up comedian. Dialog dalam film cukup pintar dan bermakna. Well, walaupun tidak sampai membuatku terguling-guling dan terbahak-bahak, tapi cukup membuat hariku bahagia. Sampai detik ini, saya merasa, a stand-up comedian is really really a talent. My kudos.
- Prime - (2005)
Tagline: A therapeutic new comedy
Aku bukan seorang penggemar Uma Thurman. Untung saja ada Meryl Streep yang membuatku ingin mengintip film drama komedi ini. Dengan karakterisasi yang sangat realistis didukung akting yang luar biasa natural. Semakin hangat dengan mood film yang very earth-tone, komplitlah ia menjadi drama artistik. Belum sanggup mematahkan kekagumanku pada ‘Little Children’nya Todd Field sih, tapi konflik cerita yang mengalir lancar cukup impressive. Bayangkan seorang wanita berumur 37 tahun, baru saja bercerai dua minggu, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang pria muda berusia 23 tahun, yang ternyata adalah anak dari sang therapist yang mengkonsultasi si wanita selama ini, dan mereka adalah keluarga Jewish yang super duper kolot dan banyak taboo-nya, dan sang wanita menceritakan dengan tak berdosanya kepada sang therapist bagaimana ia ‘main’ dengan sang priamuda di setiap sudut rumahnya, dan sampailah ketika sang therapist tahu bahwa pria itu adalah anaknya…. Ooohhh….Fiuuhh… (*stress)
A Break
Uh, it seems that I’ll be posting more notes in facebook than in here. It’s more practical there. Applications are just fun and more expressive.
Do visit my facebook account 
Hmm… Alright, alright… I’ll post my mind here sometimes. Cross your fingers for my better time management. Have a good day.
when you learn how to die, you learn how to live.
. . .
When you know what pain is, you know what love is.
When you conquer the greatest fear of losing someone you love the most, you feel relieved, it’s over, and you never really lose him anyway.
When you can see the best out of others, you have been the best out of yourself.
When you understand how to let go, you understand how to cherish.
When you realize how much love you can give unconditionally, you are just… fulfilled.
Thank you for being a part of my life. Thank you for showing me how to love. The experience of these emotions are just wonderful because now I know the true face of love. So serene, and true. My love will never change, it’s just the way I express might be different. Live life to the fullest, dear. Fly high.
YeHa. Medan. 09.10.08
PENDEKAR ANAK UNICEF
Taraaa… Here is the winner of UNICEF’S PUBLIC SERVICE AD CAMPAIGN COMPETITION 2008, for the category of professionals.
Presenting: PENDEKAR ANAK
Or ‘The Child Knight’ in English. Uh, sounds a bit tacky huh? Whatever… Haha.
I really just wanna split everything out in Bahasa Indonesia, but I know my 95% buddies, my beloved ex-roommate, and my LUCT chums across the Strait of Malacca would bugging me for subtitle then. So, here we are.
On September 11, 2008, I went on stage at the Blitz Megaplex Grand Indonesia Plaza-at UNICEF Award Presentation Night-in Jakarta-at 5.30pm-all alone by myself from Medan-representing my other three quarter-to receive the first prize: 2 Tickets to Asia Pacific Advertising Festival (AdFest) which will be held on March 2009. Don’t ask me who (the two out of four) are going cause I don’t care. What mostly important is our feeling and appreciation of what we entitled as ‘A Cause to Champion’. And this cause has been championed by four youngsters, with no experience but guts and hunger of creative briefs: Yenny Heriana (the creative director a.k.a. the bad guy), Wilson (the copywriter a.k.a. the initiate joker), Yunika (the art director1 a.k.a. the crafter), and Mahadi (the art diretor2 a.k.a. the pop artist). And another one name should I mention is Felix Lim, the ‘Nightmare-Before-Christmas’ guy that was so happen back for a short holiday in Medan (I know your holiday ain’t a holiday at all after you met us, sorry). We’ve been through weeks of OT and tons of argument on the strategy. As ‘A-Forever-Busy-Multitasking-Office-Haunt’ I should thank Wilson and Yunika at the first place for kept insist on sending entry to this competition (that’s what I always do, fishing my teams with creative briefs but too busy to follow up and really nail it out, sorry). Nah, enough for the crap and let’s just get to the point.
Our research said that most youth in Indonesia spend 19 minutes on average on Facebook everyday, and that means internet made a lot of exposure and networking site works. Then, we decided to create PENDEKAR ANAK, a community under supervised by the UNICEF Indonesia which not only active on the line but also make the causes possible in the real life.
Here is the logo. A very much pop art style (as always, but I really like this one) by Mahadi.

And three series of teaser ads on children issue to create awareness and curiosity. These teasers can be then expanded into other issues based on the programs. Now, look at the art direction! Every detail counts. Look at the characters, the expression and their clothes, the surrounding, the billboards, the houses and the neighborhood, the public transport, and even the texture. So many research had been done for it, and we ought to make Felix felt Indonesian again after staying in The States for years. Revisions by revisions, Yun-Di-Lix finally done with the visual and I and Wilson slept with swimming copies in our subconscious. Not to mention the thrill of putting all pieces together in one organized creative strategy into power-point presentation. Sigh.



This ambient media is cute and scary at the same time.

Now, the real call.The audiences are referred to the website.

And in the site, you can put anyyyythiiinggggg, as much and as long as you can, about the children’s issues faced by the UNICEF. And great thing about community, you can always make a lot of interaction and hey, be smart… Let the members do the work for UNICEF, involve them!!! Enroll them for whatever next coming projects.

This might looks simple. But trust me, there are a lot of thinking (and arguments and OTs and pains in the ass) before it. Uh, I got many deadlines to catch. Let me just take a breather and get back to work later.
Comments, anybody?
Password Syndrome
Yenny (16:34) :
Ma, account facebooknya Aplaus udah dibuat neh. Berhubung
elo anak markom, jadi sukarelawan ya buat update sekaligus jadi salah satu
moderatornya…
Yenny (16:34) :
Ntar aku kasih passwordnya dah.
Irma (16:36) :
Hadooohhh…. Banyak sekali password dalam hidupku…
Eh, Password? Hmm…
Tiba-tiba saja terlintas di otakku sesuatu yang menggelitik.
Protes Irma yang memang sedang stress berat dengan pekerjaan super numpuk lewat fasilitas network Vypress chat pun bagai anjing menggonggong kafilah berlalu.
Now, how many passwords are there in my life? Gee! I have more than 22 passwords!
Setelah dirunutkan, berikut beban karakter dan angka kunci yang
tumpang tindih di balik rak-rak memoriku, beberapa nyaris terlupakan. Dan di
luar daftar dosa di bawah ini, beberapa sandi telah benar-benar terlupakan.
1 – personal yahoo.com
1 – personal hotmail.com
1 – personal gmail.com
1 – personal mail.lumut-communications.com
1 – personal mail.aplausthelifestyle.com
1 – personal MSN
1 – personal facebook
1 – personal friendster
1 – personal multiply
1 – personal fotografer.net
1 – personal jobstreet.com
1 – personal airasia.com
2 – personal ATM
1 – personal credit card
2 – office (aplaus) yahoo.co.id
1 – office (lumut) yahoo.com
1 – office friendster
1 – office facebook
1 – office computer account
1 – dad’s company yahoo.co.id
Nah, your turn…. how
many passwords are there in your life?
Yeha* 07.07.08
Love Is A Fool (I’m A Song Writer Wannabe)
Hey hey… long time no post.
So, I just cut and paste what I have created last 2 weeks… a draft LYRIC for a song…. Haha… anyone wanna compose the music for me? It’s not a Pop… It should sound a bit groovy with sexy female vocalist… something like Amy Whinehouse or Alanis Morisette. Anyone interested to buy the copyright??? Yuhuuu….
LOVE IS A FOOL
Lyric by: Yenny Heriana
I have tried to dispose you
In a trash full of left out barbeque
But funny you always come back
Into my kitchen cabinet
Preparing for another wreck
O, my love is so so crap!
You, I have strived hard to hate you
With all the strength remain to forget you
But funny you never move on
Hiding behind my closet door
Wheeling and dealing with no call
O, My love is just a doll
Ya ya ya…
Loving you is such a fool
CHORUS:
So why should I
Still be thinking of you
[Crying for you]
[Praying for you]
So let me let you go…
Cos I love you with all my soul
Then just keep the memories rock and roll
And pretend we never make the knot
You, I have waited for chances
To tell you I’m tired playing this game
But funny I can’t say a word
When my eyes are locked into yours
Drowning and then killed in misery
My love is tragedy
# Back to CHORUS
Cos I love you…
I Love you with all my strength
Then just keep the memories packed in can
And pretend we are just good friends
Ya ya ya….
Loving you is such a fool
Ops,.. nothing personal there? Just some lines…
So, how’s that? Any comments and critics? Is it a dinner or still a dessert?
Hallooo…??
YeHa - 01.05.08
MOM, don’t you ever ask….

Mom, don’t ever ask how much you owe me for the washing detergent, peanut butter jam, or cheap shampoo I helped you buy from the mini market. My whole life just can’t pay your-nine month-shelter-accommodated for me in your womb.
And Mom, don’t worry about my living, or my over-crammed schedule, or my over-time working hours, or my diet and food supplement, or my sore eyes and bulging spines, or my long distance relationship, or my habitual stressful lifestyle and my –not-enough-sleep. Let me handle it myself and then you can proudly call me a grown up.The more you worry about us, the more we worry about you…
Mom, don’t you ever asked how much we love you. Cause it’s more than words can say.
Just take care.
And Let us take care of you.
Get well soon.
YeHa* 05.03.08
Storytelling. A Soul of Yasmin Ahmad
One month after the post. I finally put myself in front of my brother’s PC and post this rusty article. Originally published in Tabloid Aplaus, 2nd February 2008, minus the additional part on Yasmin’s reply. Mind my amateurish writing.
* * *
Bohong tapi seperti nyata. Kadang apa yang kita lihat atau kita dengar begitu sinematis dan terbawa mimpi. Sebegitu hidup karakternya, sebegitu riil ceritanya. Kemampuan mendirikan bulu roma ini mungkin hanya milik Yasmin Ahmad, sang pencerita.
Mega mendung di angkasa
Hembusan bayu dingin terasa
Gerimis berderai di merata
Bagai Mutiara.
Rahmat dibawa bersama
Limpahannya meresap di jiwa
Adakala bahgia terasa
Meskipun duka nestapa.
Orked kecil dan Mak Inom menari-nari dalam hujan dengan girang. Berbahagia seakan itu air pertama yang tumpah dari surga selama dahaga musim kemarau. Kak Som, sang tetangga, menggeleng-gelenggkan kepala dengan satu ember jemuran di pelukan.
“Apa lah dia orang tu? Tak tahu malu langsung.”
Sementara suaminya hanya sibuk berkencan dengan instri muda bernama Vespa.
Keroncong Hujan–yang diciptakan ayahanda Yasmin sendiri– ini menggiring imajiku pada film klasik P.Ramlee. Kontan rasa kerinduan akan suasana kampong dan kekeluargaan terasa begitu lekat. salah satu soundtrack paling sejiwa yang pernah kudengar. Coba saja streaming di youtube, anda mungkin tertarik hanya dengan sepenggal trailer dua menitan saja.
Nah, ketika kebanyakan artis melambangkan hujan sebagai simbol kemurungan dan pertanda buruk, Yasmin Ahmad lantang menyeduhnya dengan seni yang berbeda. Di dalam film Mukhsin, ia memproklamasikan hujan sebagai rahmat Tuhan, bulir-bulir yang membersihkan raga dan kemudian menyimpan kenangan hidup bersamanya di dalam perut bumi. Tidak hanya karakter Orked dan Mukhsin yang menyita ruang nalar, tokoh-tokoh lainnya juga dilakonkan dengan sangat natural dan familiar.
Banyak lagi elemen-elemen lain seperti pemandangan sawah–yang serasa ingin membuatku pensiun muda dan pindah ke desa–, Bujang ’sang kucing peliharaan’, layang-layang, permainan galah panjang, dan panjat-memanjat pohon. Yasmin menorehkan setiap detail dalam filmnya begitu hidup; penataan plot dan setting, karakterisasi, dialog yang akrab di telinga–semua begitu close up di hati penonton.
“Makcik Senah… macam mana seseorang tu tau yang dia dah jatuh cinta?”
Sepenggal script ini seakan meluluhkan ego dan membawa memori saya kembali ke masa kecil. Ketika itu, kita percaya cinta itu suci dan kekal. Mungkin itu juga yang ditangisi Yasmin Ahmad dan aktris Mislina Mustaffa ketika meneteskan air mata saat shooting adegan ini. Seakan baru saja teringat kalau cinta itu sebetulnya sangat sederhana dan apa adanya
Apakah itu juga yang ada di dalam pikiran juri Berlin Film Festival ketika Mukhsin memenangkan penghargaan Deutsches Kinderhilfswerk Grand Prix dan Glass Bear-Special Mention pada taun 2007? Atau mereka terkesan bagaimana sebuah kisah cinta pertama yang terinspirasi dari puisi Wislawa Symborska ini bisa sempurna tersampaikan walau hanya dengan visualisasi yang sangat basic?
Sedikit berteori, teknik penyutradaraan Yasmin sangat mendasar dan statis. Mungkin terpengaruh oleh Yasujiro Ozu yang mewarisi ’sentuhan’ sutradara film komedi Jerman-Amerika, Ernst Lubitsch. Hampir semua adegan diambil dari jauh dengan kamera diam di tempat tanpa mengikuti pergerakan para pelakon. Uh! Dengan static shots begini tentu saja ekspresi pemain adalah modal utama untuk membangkitkan emosi penonton. Dan lagi-lagi Yasmin menabung poin di sini karena ia sendirilah yang turun tangan memilih talent yang tepat untuk setiap karakter ciptaannya.
Oh, apa lagi yang diperlukan untuk membuatku jatuh cinta pada seorang Yasmin Ahmad? Di balik kesederhanaannya, terbaca kejujuran. Konon, ketika saya masih seorang mahasiswi advertising di Malaysia, seorang kawan memperlihatkan iklan tivi Petronas berjudul Letchumi & Rokiah. Sebuah kisah persahabatan inter-rasial untuk memperingati kemerdekaan Malaysia. Perpaduan musik dan scene bisu dengan narasi ini begitu menyentuh. Ketika sampai pada lima detik terakhir, jantungku terasa nyeri dan mataku basah. When you remember the day, don’t forget the feeling. Begitu suara contralto Yasmin sendiri menutup sebagai narator.
Aku bergidik. Merinding sekaligus kagum melihat buah karyanya.
Bagaikan dijampi, audio visual dalam balutan komposisi 25 frames/second ini sanggup menghantam cerebral cortex di otak besarku dengan pesan-pesan moral yang menyentuh. Mungkin karena kepiawaian lulusan psikologi Newcastle University ini memahami emosi manusia, mungkin juga karena tema yang diusung sangat sensitif.
Sudah menjadi rahasia umum kalau Yasmin memang terobsesi dengan cinta dan budaya!
Mungkin bagi anda yang belum mengenal Kak Min, sekarang biarlah saya bercerita. Ia selalu memanggil dirinya sendiri, the storyteller, sang pencerita dalam Bahasa Indonesia. Penulis dan sutradara film Rabun, Sepet, Gubra, dan Mukhsin ini begitu pintar membahasakan hidup dalam script dan visual hingga sanggup membuatku tertawa dan menangis bersamaan. Kesemuanya ditulis di Bali dalam waktu tidak lebih dari seminggu, kesemuanya mengisahkan tentang pembauran antarsuku di negeri jiran Malaysia.
Tidak usah berbicara tentang berapa penghargaan perfilman internasional yang sudah diraih executive creative director Leo Burnett Malaysia ini, cemooh dan celaan pun sudah ia telan. Yasmin dianggap sebagai koruptor budaya Melayu di negerinya sendiri hanya karena ia terlalu jujur pada diri dan karyanya. Pelacuran, perselingkuhan, dan cinta seorang wanita Muslim yang soleha dengan seorang lelaki Cina, menjadikan Gubra karya kontroversial yang dicintai sekaligus dimaki. Apalagi yang menanti Muallaf, film terbarunya yang lebih ‘keringat dingin’ dengan tema agama?
You have to get personal with your art. Demikian shout out dalam personal blognya.
Yasmin tidak hanya menyutradarai dan menulis sendiri semua skenario filmnya. Jiwanya HIDUP dalam karakter-karakter ciptaannya, kisahnya nyata dalam benak penontonnya. Memang, karyanya belum sekelas Alfred Hitchcock, atau Orson Welles, atau sutradara penakluk Cannes lainnya. Namun predikatnya bertutur ‘stroytelling’ cerita sangat luar biasa.
Tidak heran kalau struktur skenario tiga babak yang ditulisnya tidak hanya sebagai pelengkap fungsi sebuah film saja, namun adalah karya seni itu sendiri.
YeHa - 29.02.08
REST IN PEACE - Okudz Alberto

Monday, 4 February 2008, at 2 am in the early morning, my beloved mini pincer… Okudz Alberto (cos I called him ‘black bone’ Okudz in Hok Kiean, and Mom gave him English name Albert), has been killed by my neighbour’s giant kampong dog. I found wound on his neck…
I felt terribly sorry for him as I just brought him for a walk in the afternoon on the day before. And I didn’t know how he could untied himself and ran away in the midnight. My sis heard noises and dogs barking at 2am, guessed it was the time he left us.
Though I ai n’t really a pet lover, somehow I felt emotionally connected to Okudz. Everytime I called his name, he reacted as he understood. Either Okudz or Albert, to both he would straight up standing and eyeball to the caller. What I adore the most about him is the feeling when I brought him for a walk. He’s just so cute and I felt so peaceful. I dunt know, maybe for me… it was a wonderful break out of my routines. I could only do it, maybe twice or three times a week.
So… He would run and sniff the grasses to find the best spot to pee, and… he peed at least 5 times, the last one would be followed with poo. crazy! I have no idea how smell can raise his desire to pee or poo. Then he would scratch-scratch his two (behind) legs to the ground, and do stretching… Oh My God! Really stretch his body like how we war m up before doing exercise. Watching him doing so is such a pleasure for me. I’m not sick, am I?

I remembered the first time Dad brought him home, he’s the only dog that did’t shock or shiver on ‘the first day’. Well, he didn’t bark, but he swang his tail gracefully. The first month he slept at the terrace, he trembled and chilled whenever it rained. Then Mom gave him a carton box, still didn’t warm him enough then. So, daddy made him a house (Bob said it looked ugly, uh), with a very comfortable cushion mat making him slumber all the time. Lazy doggie!
And he only ate meat, meat, and MEAT!
As now he’s not around, afraid Mom will be lonesome as my sis flying back to KL on 16 Feb. Me and my bro commit to spend more time with her. She has insomnia lately, really really bad. I’m so worry about her.
Meanwhile, on the evening Okudz was away, his home-made doghouse was dismissed… but the memory of my playful time at home will always be.
See you in the next life, Okudz.
-YeHa* 06.02.08 Good Bye Note
“It’s A Reply! From Yasmin Ahmad!” 28.01.08, 9.35pm
"Diii.. u betta get ur ass here, NOW! I got a reply from Yasmin! Hurry! She replied… she replied!" Teriakanku bergema di seluruh sudut kantor. Mahadi yang sedang ngokar di lantai 4 kontan pontang panting turun dan menyerbu ruanganku.
Bagai mendapat ‘Rupiah Jatuh dari Langit’ kami pun berjoget ria, menari-nari bagai kerasukan. Hah!! Begitulah penulis amatir yang mendapat balasan email dari narasumber yang sudah ditunggu-tunggu. Macam mau menjemput pengantin saja, girang berlebihan.
Bagaimana tidak? Artikel ini sudah masuk plat dan hampir dikirimkan ke percetakan! Untung saja, sebelum pulang saya sempat mengecek email–tanpa ada harapan sama sekali– dan menemukan nama Yasmin di antara 25 banjiran email dari milis. Then the rest is history. Check it out on Aplaus edisi 64 terbitan Sabtu nanti.
Duh, tidak terbayangkan bagaimana sebuah pekerjaan yang walaupun melelahkan dan menuntut jam lembur yang luar biasa, bisa membuatku begitu energik mengubah artikel dan layout pada pukul 10 malam. Begitu juga semangat yang sama untuk menyempatkan diri menulis di antara kesibukanku yang lainnya (saya toh bukan seorang penulis kan?)
40 lembar research berisi artikel, review, dan catatan tentang Yasmin Ahmad kutelusuri hingga tengah malam. Bahkan Yasmin sudah bisa menuntutku seorang ‘penguntit’ karena menjajahi blognya dari archive tahun lalu. Busyeett!!
But don’t worry, no harm was caused in the making of this article! Aku hanya mencoba untuk mengenal sosok Yasmin lebih dekat, lebih close up, dan lebih utuh. Juga dengan karyanya, dan tulisanku sendiri. Pada akhirnya, aku terperangkap dalam keindahan pribadi Yasmin yang begitu apa adanya. Tidak berlagak pintar, rendah hati, dan sangat tulus. Mungkin pada postingan berikut, akan aku lampirkan tulisan tentangnya.
*Yeha- Mon, 28.01.2008 - 10.50pm